IRMAS TV

Loading...

Selasa, 26 Maret 2013

Artikel Islami : Kandungan Surat Al-Kautsar

Tidak ada komentar
Assalamu'alaikum wr wb.
Apa kabar akhii & ukhti? Semoga sehat wal'afiat dan selalu berada di dalam lindungan-Nya. Pada kesempatan kali ini, kami akan membahas tentang kandungan Surat Al-Kautsar. Nah sama seperti namanya nih, Irmas Al-Kautsar. Supaya bisa mengerti makna dan arti dari nama "Al-Kautsar", yuk simak bacaan berikut...

Surat Al-Kautsar adalah surah yang terdiri dari 3 ayat dan tergolong surat Makkiyah (surat yang diturunkan sebelum hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah). Penamaan surah ini diambil dari kata terakhir dari ayat pertama yaitu Al-Kautsar.

 إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ . إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

"Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah)" (Q.S. Al-Kautsar ayat 1-3)


Ayat pertama:

Apa itu Al-Kautsar? Ternyata, ada 2 penafsiran di kalangan para ulama ahli tafsir tentang makna Al-Kautsar.

1). Al-Kautsar adalah sebuah sungai yang berada di Al-Jannah (surga) yang Allah SWT persiapkan untuk Rasulullah SAW. Al-Imam Ibnu Katsir menyebutkan sebuah riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Suatu hari Rasulullah SAW sempat terkantuk hingga tertidur. Tiba-tiba Rasulullah SAW mengangkat kepalanya sambil tersenyum, kemudian para sahabat bertanya kepada beliau, ‘Kenapa engkau tersenyum wahai Rasulullah?’ Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya baru saja turun kepadaku sebuah surat.” Kemudian beliau membaca ayat pertama dari surat Al-Kautsar hingga ayat terakhir.

”Tahukah kalian apa itu Al-Kautsar?, para sahabat menjawab “Allah dan Rasul-Nya saja-lah yang lebih tahu”. Maka Rasulullah menjawab, “Dia adalah sebuah sungai yang berada di Al-Jannah (surga) yang Allah SWT berikan kepadaku dan padanya terdapat kebaikan yang banyak.” (HR. Al-Imam Ahmad 3/102).

2). Al-Kautsar berarti kebaikan yang sangat banyak. Sehingga Al-Kautsar tidak hanya sebatas sebuah sungai yang ada di Al-Jannah (surga), karena kebaikan yang Allah SWT berikan kepada Rasulullah SAW sangat banyak, sebagaimana disebutkan dalam beberapa surat di Al-Qur`an. Di antaranya ialah dengan dipilihnya Rasulullah SAW sebagai seorang nabi dan rasul, bahkan yang terbaik di antara para nabi dan rasul. Juga dengan diturunkannya Al-Qur`an kepada beliau, satu-satunya dari kalangan nabi dan rasul yang diberi izin oleh Allah SWT untuk memberikan syafaat ‘uzhma di padang mahsyar, orang pertama yang Allah beri izin untuk membuka pintu Al-Jannah (surga), diampuninya dosa beliau yang telah lalu dan yang akan datang, dan masih banyak kebaikan yang lainnya yang tidak terhitung. Sehingga itu semua yang dimaksud dengan Al-Kautsar.

Makna yang kedua ini diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah dari sahabat Abdullah bin Abbasradhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau berkata tentang makna Al-Kautsar, “Dia (Al-Kautsar) adalah kebaikan-kebaikan yang telah Allah SWT berikan kepada beliau (Rasulullah SAW)” (Shahih al-Bukhari no. 4966).
Pendapat yang kedua ini dikuatkan oleh al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah dan beliau tegaskan dalam kitab tafsirnya, ”Tafsir ini (tafsir Ibnu Abbas tentang Al-Kautsar) meliputi banyak hal bahkan termasuk sungai yang berada di Al-Jannah (surga) dan yang lainnya, dikarenakan Al-Kautsar itu sebuah kata yang berasal dari kata al-katsrah (sesuatu yang banyak kuantitasnya) sehingga makna Al-Kautsar adalah kebaikan-kebaikan yang banyak. (Tafsir Ibnu Katsir) Wallahu a’lam.

Ayat kedua:

Ada dua ibadah yang diperintahkan dalam ayat ke 2  ini, yaitu ibadah shalat dan kurban. Maka shalatlah untuk Rabb-mu satu-satunya, ikhlaskan niat, bersungguh-sungguhlah dalam melaksanakannya dan sembelihlah hewan kurbanmu, baik berupa onta, sapi ataupun kambing, semuanya harus diserahkan dan dipersembahkan hanya untuk Allah SWT satu-satunya. Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’dy rahimahullah berkata, “Disebutkan secara khusus dua ibadah dalam ayat ini, dikarenakan keduanya (shalat dan kurban) merupakan ibadah yang paling utama dan paling mulia untuk mendekatkan diri kepada Allah  SWT. Dalam shalat terkandung ketundukan hati dan perbuatan untuk Allah SWT, dan dalam ibadah kurban merupakan bentuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan sesuatu yang terbaik dari apa yang dimiliki oleh seorang hamba berupa hewan kurban. (Tafsir as-Sa’diy hal. 936).

Dalam ayat kedua ini terdapat dalil penting yang terkait dengan hukum dan tata cara dalam ibadah kurban bahwa proses pelaksanaan ibadah kurban itu dilakukan setelah shalat Idul Adha, bukan sebelum shalat. Kesimpulan ini dilihat dari ayat yang kedua :
“Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu; dan berkurbanlah,”  disebut shalat terlebih dahulu baru kemudian menyembelih hewan kurban. Karena jika ibadah kurban itu dilakukan sebelum shalat maka posisi dia bukan sebagai hewan kurban, dagingnya bukan daging kurban akan tetapi terhitung sebagai daging sedekah biasa. Hal ini pernah terjadi di masa Rasulullah SAW saat salah seorang sahabat yakni Abu Burdah radhiyallahu ‘anhu menyembelih hewan kurbannya sebelum shalat Idul Adha, Rasulullah SAW bersabda, ”Kambingmu adalah kambing untuk (diambil) dagingnya saja.” (HR. al-Bukhari no.5556 dari al-Bara` bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu). Dalam lafazh lain (no.5560) disebutkan, “Barangsiapa yang menyembelih (sebelum shalat Idul Adha), maka itu hanyalah daging yang dia persembahkan untuk keluarganya, bukan termasuk hewan qurban sedikit pun.”

Rasulullah SAW juga bersabda dalam khotbah Idul Adha, “Barangsiapa mengerjakan shalat seperti shalat kami dan menyembelih hewan kurban seperti kami, maka telah benar kurbannya. Dan barangsiapa  menyembelih sebelum shalat (Idul Adha) maka hendaklah dia menggantinya dengan yang lain.” (HR. al-Bukhari no. 5563 dan Muslim no. 1553).

Ayat Ketiga:

“Sesungguhnya orang yang membencimu dialah orang yang terputus.”
Ada 2 penafsiran tentang makna dari إِنَّ شَانِئَكَ :
Diriwayatkan  dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa makna dari ayat diatas adalah
1.  “Sesungguhnya musuhmu.”
2. “Sesungguhnya orang yang membencimu. (Rasulullah SAW)”
(Tafsir ath-Thabari hal. 602)

Adapun makna  الْأَبْتَرُ ialah orang yang terputus tidak memiliki keturunan/tidak memiliki generasi penerus atau bisa diartikan tidak adanya kelanjutan dari sisi nasab
Disebutkan oleh al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah bahwa salah seorang ahlul kitab yang bernama Ka’ab bin al-Asyraf ketika datang ke kota Mekah dan bertemu dengan kaum Quraisy, lalu mereka mengatakan kepada Ka’ab bin al-Asyraf, “Bagaimana menurutmu wahai Ka’ab tentang orang yang tidak memiliki keturunan lagi, memutus hubungan dengan kaumnya (yaitu Muhammad) dan menganggap dirinya lebih baik dari kami, padahal kami adalah kaum yang senantiasa berhaji, berkhidmat menjaga Ka’bah dan melayani serta memberi minum kepada jamaah haji? Kemudian Ka’ab bin al-Asyraf menyatakan, “Kalian lebih mulia dibandingkan dia (Rasulullah SAW).” Setelah pernyataan tersebut turunlah ayat:
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

artinya, “Sesungguhnya orang yang membencimu dia lah orang yang terputus.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 2/295). Terputus dalam artian terputus dari setiap kebaikan, amalan, sanjungan. Adapun Rasulullah  SAW menjadi manusia yang paling sempurna dan memiliki kedudukan di sisi seluruh makhluk, berupa tingginya pujian kepadanya, banyaknya pembela dan pengikutnya. (Tafsir as-Sa’di hal. 936)

Nah, gimana akhii & ukhti? Sudah paham kandungan Surat Al-Kautsar? Semoga dengan kita mengetahui tafsir surat Al-Kautsar ini akan menambah  pengetahuan kita  tentang Al-Qur`an sehingga menjadi pendorong bagi kita untuk semakin dekat dengan Allah SWT, semakin takut akan adzab dan siksa-Nya. Semoga Irmas Al-Kautsar juga senantiasa diberikan kenikmatan yang banyak dari Allah SWT, sama seperti namanya :), aamiin.

Akhirulkalam, wassalamu'alaikum wr. wb.



Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Berita Terpopuler

Member